CHEK IT OUT..!! »

Tampilkan postingan dengan label diary online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diary online. Tampilkan semua postingan

Tentang HitamKu

aku ingin bicara dengan hitamku
bicara apa adanya .............
tentank segala yg kurasa

hitamku
tanggungan masa kelam jiwaku selalu
namun jauh lebih jujur dari putihku
kau menyimpan berjuta kenangan
yang ingin terlupa atau harus terbuang dalam hidupku
namun ku tak mampu lepaskanmu
selalu ada bagian dr hitamku menyelimuti d setiap langkahku
hitamku
pekat ... amis laksana darah kotor dalam tubuhku
menjijikkan namun tetaplah hitamku
kan kemana ku harus membuankmu duhay hitamku
tangisan demi tangisan selalu menyertai hitamku
kesakitan ... kepedihan ... kenistaan
selalu ada bersamamu hitamku
hitamku
sebagian jiwa merintih memanggil dirimu
kala duka ini tak dpt terpikul olehku
terpikir olehku ntuk sempurnakan ragaku dalam hitamku
namun selalu saja waktu membantu menjawab semua
hitamku
selalu ku harus menetukan pilihan langkahku
kembali pada hitamku
atau berjalan di atas jiwa rapuhku 
semusim yg lalu
tak ada rasa d antara kita berdua
hanya ada pertengkaran
perselisihan dan keegoan 
semusim yg lalu
cuma ada dendam
salink beradu kata
semusim yg lalu
kau dan aku
hanya lah dua org manusia
yg salink mengumbar kemarahan
di musim ini
hanya ada rasa sayank
hanya ada rasa cinta
hanya ada rasa untuk berbagi
hanya ada rasa tuk salink memiliki
di musim ini
kau dan aku salink menabur benih kasih
smoga slalu abadi
you and me
Nez-Vey

Makalah Filsafat Dan Cinta

Wuih, Setelah Lama tidak Posting Karena sibuk ujian, akhirnya sekarang bisa lega dikit nech karena udah kangen sama blog Havynezz ini karena havy juga masih mahasiswa, maka jangan jangan heran kalo kadang kadang havy posting makalah ato sekedar curhatan anak muda. hehehe.
kalo lihat judulnya, mungkin ini kurang pantas dinamakan artikel/ makalah/ skripsi. tapi lebih ke curhat ilmiah aja.
Ontologi cinta
Ah…sulit rasanya untuk mendeskripsikan cinta, apalagi untuk mendeskripsikannya dalam terminologi. Sulitnya cinta untuk dideskripsikan karena cinta berhubungan dengan rasa, yang dalam istilah tasawufnya berhubungan dengan dzauq. Bahkan para pakar tasawuf sendiri dalam mendeskripsikan terma tasawuf banyak bersilang pendapat, karena disamping tasawuf berhubungan dengan rasa, perbedaan pendekatan yang mereka gunakan dalam memahami tasawuf menghasilkan interpretasi yang berbeda pula. Tapi ngapain ngomong tasawuf, lha wong judul kita tentang filsafat cinta. Maka dari itu, agar tidak menimbulkan pertanyaan yang mbuletdalam hati, ada baiknya kita coba untuk mendeskripsikannya toh meskipun sangat amat sulit sekali untuk dideskripsikan.
Cinta, love atau dalam bahasa Arab kadang diartikan dengan al-hubbal-wudd, dan lain sebagainya tergantung dari sumber derivasinya, yang kesemuanya berhubungan dengan perbuatan hati (rasa). Karena memang cinta adalah sebuah rasa. Rasa yang berhubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Rasa yang lebih dari sekedar suka. Rasa yang bisa mengakibatkan orang yang mengalaminya gelisah, tidak tenang, kadang-kadang murung, banyak melamun. Rasa yang bisa menimbulkan perasaan rindu, kangen, marah, benci dan lain sebagainya. Rasa yang membuat orang tidak enak makan, sulit tidur, bahkan kadang membuat orang menjadi sakit. Yang menyebabkan orang meneteskan air mata.
3
Apakah karena teringat tetangga di Dzi Salam, engkau teteskan air mata bercampur darah. Ataukah karena tiupan angin dari bukit Kadzimah, atau karena sambaran petir dalam gelapnya malam dari bukit Idomi. Kepada kedua matamu engkau berkata: ‘Diamlah, jangan menangis!’. Dan kepada hatimu engkau berkata: ‘Tenanglah, jangan gelisah!’”. (Burdah)
Rasa yang ditimbulkan cinta ini bukan muncul dari logika, bukan muncul dari nalar, bukan pula muncul dari panca indera (toh meskipun cinta bermula dari pandangan). Akan tetapi, rasa cinta muncul dari dalam hati, dari nurani yang ada dalam hati. Dengan demikian, kita menggambarkan cinta dengan lambang hati. Bukan dengan gambar pentol korek yang menyala apinya, atau gambar palu arit dan yang lain sebagainya.
Yach… mungkin inilah sekilas pemahaman tentang arti cinta yang bagi saya sendiri sangat amat sulit sekali untuk digambarkan, apalagi dideskripsikan. Yang pasti masing-masing dari kita pasti memiliki pemahaman tersendiri dari kata cinta, tergantung dari mana kita memandang dan mendekati cinta, dan dari mana kita mulai pengalaman cinta.
Cinta bukan hanya sekedar kata
Cinta bukan hanya pertautan hati
Cinta bukan hasrat luapan jiwa
Cinta tak hanya diam (Padi, “Tak Hanya Diam”)
Epistemologi Cinta
Rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa
Sejak lama sampai kini tetap suci dan abadi
Takkan hilang selamanya sampai datang akhir masa
Mungkin inilah syair melayu yang pas untuk menggambarkan bagaimana cinta diperoleh. Cinta merupakan anugerah Yang Maha Cinta, Yang Maha Kasih, Yang Mencintai dan tak berharap untuk dicintai, Yang Mengasihi dan tak berharap untuk dikasihi. Sebuah anugerah yang agung yang setiap makhluk tidak dapat mengingkarinya. Sebuah fitrah suci yang diberikan tanpa memandang jenis kelamin, ras, suku bangsa, warna kulit, miskin-kaya, hina-mulia, tua-muda. Sebuah fitrah yang diberikan hanya untuk makhluk yang bernyawa, yang memiliki jiwa.
Cinta jenis ini bisa berupa cinta orang tua kepada anak, cinta kakak kepada adik, cinta guru kepada murid, cinta murid kepada guru, cinta sahabat kepada sahabat, atau cinta kekasih kepada yang dikasihi. Cinta Tuhan kepada hamba-Nya, dan cinta hamba kepada Tuhannya.
Cinta jenis ini muncul meskipun kadang yang dicintai tidak memahami bahwa dia dicintai oleh yang mencintainya. Anak sebandel apapun masih tetap dicintai oleh orang tuanya. Murid meskipun suka membolos masih tetap akan dicintai oleh sang guru. Dan seburuk apapun sang kekasih baik budi maupun bodinya, masih akan tetap dicintai oleh yang mengasihinya. Inilah yang oleh beberapa pecinta disebut dengan cinta sejati, cinta tulus, cinta abadi, dan lain sebagainya.
Namun, disamping cinta merupakan anugerah Yang Maha Kuasa, cinta juga bisa diperoleh melalui proses yang dijalani.
Kata suka, senang, sayang, kasih kadang diidiomkan dengan kata cinta. Dan masing-masing kata ini juga memiliki interpretasi yang berbeda-beda tergantung siapa yang menginterpretasikannya. Perasaan suka, senang, sayang dan kasih, bisa muncul meskipun seseorang berangkat dari rasa yang sebaliknya, benci, marah, dan lain sebagainya.
Perasaan suka, senang, sayang dan kasih ini dapat muncul tatkala seseorang sudah terbiasa bergaul dengan sesuatu yang semula dia benci, sesuatu yang baginya tidak baik. Sebuah contoh, ada seorang yang bukan perokok dan sangat tidak senang untuk minum kopi. Akan tetapi, dalam lingkungan pergaulan kesehariannya adalah mereka yang amat gemar untuk merokok dan minum kopi. Pergaulan ini sangat tidak bisa dia hindari meskipun pada dasarnya dia tidak menyukainya. Namun, lambat laun karena sudah terbiasa dengan bau asap rokok, dan harum aroma kopi panas, maka dia pun sedikit demi sedikit akan tertarik untuk merasakannya. Dari sini pula akan muncul rasa suka, senang, atau bahkan sayang jika tidak bisa merokok dan minum kopi. Dalam istilah Jawa ini disebut sebagai tresno jalaran songko kulino. Mungkin ini deskripsi yang cocok untuk menggambarkan bagaimana proses cinta dapat diperoleh, yaitu melalui kebiasaan.
Aksiologi Cinta
Namun, cinta bukan kopi, cinta bukan pula rokok, atau cinta bukan kesenangan-kesenangan yang memberikan kenikmatan sesaat. Aksiologi cinta, manfaat cinta lebih dari sekedar untuk menyalurkan luapan nafsu syahwati. Cinta dapat memberikan semangat bagi hati yang pesimis, cinta dapat memberikan kebahagiaan bagi hati yang sedih, cinta juga dapat memberikan kehidupan bagi hati yang mati.
Meresap kecup hangat sebentuk cinta
Tlah terukir di dalam jiwaku
Seperti tetes embun menyegarkan hari
Menciptakan keajaiban di hati (Padi, “Tak Hanya Diam”)
Namun, cinta tidak hanya memberikan kesenangan dan kebahagiaan bagi si pecinta. Tidak jarang cinta juga memberikan rasa sakit yang amat sangat. Cinta kadang memberikan kegelisahan, tetes air mata, kebencian bahkan kemarahan.
4
Apakah orang yang dilanda cinta mengira bahwa cinta dapat disembunyikan antara cucuran air mata dan kemarahan. Suatu malam terlintas bayang seseorang yang kucintai, menyebabkan aku sulit tidur. Ah…memang benar, cinta menukar kenikmatan dengan rasa yang menyakitkan”. (Burdah)
Cinta juga bisa menulikan telinga, membisukan mulut, dan membutakan mata.
Cinta itu bagai anak panah 
Yang siap melesat dan menancap ke mana arah yang dituju
Tak ada satu tanganpun yang mampu mematahkan anak panah yang sudah menancap itu 
Kuat dan tak akan berkarat 
Cinta tidak mampu melihat perbedaan 
Cinta tidak sepaham dengan logika 
Cinta itu tidak punya mata (No name)
Cinta juga kadang memberikan kehinaan bagi si pecinta. Dan karena cinta membutakan, dia pun rela menerima berbagai bentuk kehinaan.
5
Orang yang dilanda cinta, walaupun tinggi derajatnya seperti raja, dia akan patuh (tunduk) pada orang yang dicintainya. (No name)
Ah mungkin inilah seni dari cinta, cinta kadang memberikan kebahagiaan dan kadang pula memberikan kesengsaraan. Apapun yang terjadi, demi yang dicintai seorang pecinta rela menerima segala akibat dari cinta yang dirasakannya.
Nah, sekarang cinta yang bagaimana yang dikatakan baik dalam pandangan agama Islam, karena kita kan orang Islam.
Cinta Dalam Islam
Islam adalah agama rahmat lil’alamin pembawa kasih bagi semua umat manusia, alam semesta.
Dalam Islam sangat ditekankan akan pentingnya cinta kasih kepada siapapun. Baikhal minAllah (hubungan dengan Allah), maupun habl min annaas (hubungan dengan manusia, termasuk alam semesta).
Cinta, bagaimanapun bentuknya harus didasarkan pada kecintaan kepada Allah. Cinta kepada manusia, kepada benda, kepada lingkungan sekitar, semua ditujukan kepada sang Khalik. Cinta yang demikian yang sangat berat untuk dilakukan.
Muara kehidupan ini adalah untuk kembali kepada-Nya, termasuk cinta. Cinta sejati adalah cinta yang tak berharap sesuatu apapun, kecuali ridho-Nya. Kehidupan kita, termasuk rasa cinta kita adalah suatu bentuk pengejawantahan dari rasa pengabdian (ibadah, ta’abbud) kita kepada sang Khalik. Karana kita hidup hanya untuk mengabdi kepada-Nya.
Jadi, apapun yang terjadi, bagaimanapun bentuknya, kepada manusia, kepada benda, kepada alam semesta, seluruh cinta kita harus ditujukan untuk berta’abbud kepada Allah. Karena jika cinta sudah dilandasi ta’abbud, maka seks, coklat, hadiah atau bentuk penghargaan apapun, hanya menjadi sebuah kembang hiasan dari perasaan cinta itu sendiri, bukan menjadi tujuan dari cinta. Kenikmatan sesaat yang dijanjikan cinta akan menjadi hina, tiada harganya. Cinta menjadi rela untuk menerima hasil akhir dari takdir cinta. Happy ending, sad ending, atau apapun bentuk akhir dari sebuah kisah cinta, akan menjadi indah tatkala cinta dilandasi rasa cinta dan ta’abbud kepada Allah, Sang Maha Cinta.
Ketika engkau mengenal cinta, engkau akan mengenal kematian… (No name)
Yach…mungkin inilah sekilas tulisan kecil tentang arti, makna, proses cinta, dan manfaat dari cinta. Akan tetapi, sekali lagi, tidak menutup kemungkinan tulisan ini akan berseberangan dengan pikiran pembaca. Karena masing-masing dari kita memandang dan mendekati cinta dengan point of view dan approach yang berbeda-beda.


thankz to  inspirate

My 20th Birthday

Bismillahirrohmaanirrohim.... 
alhamdulillahirobbil 'alamiin... ya ALLAH, engkau masih memberiku kesempatan untuk menghirup udara pagi ini.
20 tahun sudah aq hirup udara segar tanpa membayar.
ya, tepat di hari inilah ulang tahunku yang ke 20, yang mungkin terlihat seperti biasanya. tapi bagiku ini adalah hari yang sangat spesial bagiku karena banyak kejadian indah yang terjadi di tahun ini.
karena, hari ulang tahunku kali ini bertepatan dengan tanggal 9 muharram, hari yang mana sebagian ummat muslim menjalankan ibadah puasa sunnah tasu'ah.
hari yang tepat bagiku untuk ber muhasabah, dan menjalankan ritual curhat melalui doa kepada yang maha kuasa. karena sebagai manusia, aq mempunyai banyak hutang kepada sang maha pencipta.
dalam doaku, aq tidak pernah menginginkan untuk panjang umur, karena ku tahu bahwa umurku telah tertulis di lauh al-mahfudh. dan aku tak punya hak untuk merubah ketetapan tersebut. 

yang aku inginkan adalah agar aku dapat selalu membahagiakan oRang" di sekitarku...dan memberikan yang terbaik buat mereka...aku bersyukur memiliki banyak sahabat yang bisa dijadikan tempatku mengadu...aku bersyukur mempunyai oRang tua yang masih perduLi kepadaku...dan oRang" yang menyayangi aku....
aq juga bersyukur telah menemukan cinta pertamaku, semoga dialah yang menjadi yang terakhir bagiku. meski q tak tahu kriteria sempurna itu seperti apa, tapi bagiku dia sudah lebih dari sempurna bagiQ, terima kasih ya ALLAH....
yang aku inginkan saat ini adalah agar aku bisa menjadi oRang yang lebih bijaksana dalam menghadapi hidup menjadi oRang yang tegar dan kuat dalam menghadapi semua permasalahan dalam hidup ini...

aku hanya ingin lebih dewasa dalam menjalani apa yang ada di dunia ini...dapat memberikan baik diantara yang terbaik untuk oRang tua..keLuarga..sahabat dan oRang yang aku sayang..walau itu memerlukan pengorbanan yang cukup besar...
 
disini...saat ini..tempatku merenung..di hari uLang tahunku...aku hanya ingin agar aku bisa lebih baik di banding tahun" sebelumnya..karena aku sungguh bersyukur...ULang Tahunku Tahun ini...diRayakan oLeh seLuruh dunia...15 desember 2010 / 09 muharram 1432 H...

Terimakasih Tuhan... 
kau memberikan aku suatu kebahagiaan yang amat sangat dan belum tentu bisa dialami oLeh semua Orang... 
kau memberiku kekuatan untuk melakukan hal yang mungkin tidak semua orang bisa lakukan.
kau memberiku kesabaran untuk menghadapi cobaan.
dan di usiaku yang ke 20 ini kau telah mempertemukanku dengan seseorang yang benar benar memberi warna dalam hidupku. yang mengajarkan kepadaku tentang kesabaran, pengertian, yang menunjukkan kepadaku arti cinta, arti kasih sayang. yang selalu memberiku semangat di saat ku lemah. semoga dialah orang yang kau tetapkan sebagai pendamping sisa hidupku yang tak mungkin ku ketahui akhirnya. semoga perlindunganMU selalu menyertainya. 
bantu aku untuk bisa menjadi lebih baik ya Tuhan.. di usiaku yang sekarang
bantu aku untuk membalas jasa mereka dengan sisa hidupku ini.... amiin


inspired by: my lovely ester 
 U make me rise when i fall

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan???

sebuah kisah sederhana namun mempunyai arti yang sangat dalam jika kita bisa merenunginya...
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".
"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Kekristenan itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".

"Tentu saja," jawab si Profesor,

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.


sumber :http://artikel-motivasi.blogspot.com

Kehebatan Cinta


Pernahkan kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja
demi seseorang yang kamu cintai meski kamu tahu, ia takkan pernah peduli? Ataupun ia peduli dan mengerti tapi ia tetap pergi?

Pernahkan kamu merasakan Hebatnya Cinta?
tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia,
bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah?

Aku pernah tersenyum meski kuterluka,
karena kuyakin Allah tak menjadikannya untukku

Dan aku pernah menangis kala bahagia,
karena ku takut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja

Aku pernah bersedih kala bersamanya,
karena ku takut aku akan kehilangan dia suatu saat nanti

Dan aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya,
karena sekali lagi “cinta tak harus memiliki”
dan aku yakin Allah telah menyiapkan cinta yang lain untukku

Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku,
karena memang cinta ada dalam jiwa, bukan dalam raga.***



sumber: sabarya.blogspot

Cermin Bagi diri

Disaat kita menerima hujaman perkataan menyakitkan dari seseorang, apakah  terasa sakit ? dengan kemanusiaan kita, tentunya sakit itu akan terasa pedih .

Disaat sikap seseorang yang menyulut api amarah kita dengan sikapnya yang tidak menyenangkan, apakah emosi kita terbakar ? dengan kemanusiaan kita, tentunya api membara didalam dada.

Disaat kita menghujamkan perkataan yang menyakitkan, apakah kita menyadari orang lain akan terasa sakit ? tanpa disadari , bahwa kita telah menyakitinya.

Disaat sikap kita menyulut emosi seseorang dengan segala sikap dan tingkah laku kita yang tidak menyenangkan, apakah kita menyadari semua itu akan menyinggung hati orang lain  ?  tanpa disadari, bahwa kita telah membakar hatinya.

Akh…bila saja setiap manusia selalu mengembalikannya terhadap dirinya sendiri, dengan selalu berkata-kata dengan sangat hati-hati dan selalu bersikap yang sebaik-baiknya terhadap orang lain, karena takut menyakiti dan membakar hatinya. Dunia ini rasanya telah menjadi surga.

Tapi inilah dunia, yang harus kita jalani dengan segala ujian dan cobaan-NYA, melalui likunya hidup dan fitnah. Agar kita selalu mendekatkan diri terhadap sang Khalik, untuk bekal menuju-NYA.

Tapi alangkah indahnya bekal itu kita isi untuk selalu berbuat baik dari menjaga lidah, sikap dan kelakuan kita terhadap sesama, walau bekal itu berat untuk didapat. Mungkin dengan mencoba untuk hidup lebih baik dan lebih baik lagi, bekal itu mudah didapat dengan kelapangan dan kejernihan hati.

from: sabar ya

Sedikit Jawaban "kenapa harus wanita sholihah?"

Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka ?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..
Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka ?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…
Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis dijalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya dihadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita dimanapun..
Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka ?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika godaan pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis ? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta ?
Aku menjawab..
Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.
Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..
Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permana syurga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..
Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka ?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca al qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka ? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern ?
Aku menjawab..
Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menysihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.
Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul didalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu ?
Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.
Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka ?
Pada akhirnya, akupun menjawab…
Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang sholih seperti mereka..
Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…
Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari syurga yang turun kedunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk meberikan kepadamu yang tak berarti dimata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni syurga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.
Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki sholih penghulu syurga…
Seberat itukah ?
Ya… Takkan mudah.. sebab syurga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…
and i believe u
inspired by: lovely ester
readmore at: http://almuhandis.wordpress.com



Bidadari Tahajjud

“Kau
sungguh mencintainya?” seolah-olah Tuhan bertanya begitu padaku.
“Aku sungguh mencintainya, Tuhanku.
Aku tak ingin dipisahkan darinya. Aku mohon Engkau restui ia menjadi
pendampingku mengabdi kepada-Mu.”


“Kalian
ingin mengabdi pada-Ku?”

“Betul Tuhan-Ku”
“Apa
jaminannya?”
Peluh dingin
mengalir dari tengkukku, jatuh ke baju takwa-ku dan terus luruh di
hamparan sajadah.

Saat itu duduk
diantara dua sujud.
Berhati-hati
benar kuusap tengkukku, berusaha menghapus peluh itu. Pelan sekali, agar tak
membuat gerak yang menambah banyaknya dosaku.
Tapi, peluh itu terus
saja mengalir. Ah…entah kenapa,..

di sepertiga malam terakhir yang dingin ini,
saat orang-orang terlelap dalam dengkur pulas tidur, suasana menjadi panas
sekali. Mungkin oleh pertanyaan itu. Ya….oleh pertanyaan itu.
“apa
jaminannya…?? dengan bersatunya kami, ia
menjadi pendampingku dan aku menjadi pendampingnya, apakah kami akan terus
mengabdi pada Tuhan?”

Aku bersujud
kembali.

“Apa
jaminannya,. setelah kalian bersatu, apakah kalian akan tetap mengabdi untuk-Ku..?”

Tuhan seperti
mengulang pertanyaan-Nya, meminta penegasan dariku yang sedari tadi hanya bisa
berpeluh dalam diam.
“Kami akan saling memberi semangat
untuk pengabdian itu, Tuhanku”
“Begitu?”
“Betul, Tuhanku. Bukankah selama ini,
hal itu telah terbukti, Tuhanku. Setiap malam, aku selalu terbangun.
Seolah-olah bidadariku memanggil namaku dan menyuruhku beribadah pada-Mu,
Tuhanku. Aku bersyukur, dalam ibadah malam-malam seperti itu, alkhamdulillah kami
masih tetap bersatu. Aku selalu memohon pada-Mu, tuhanku, seperti yang Kau
suruh dalam firman-Mu, semoga cinta kami abadi.”
Istighfar kulafalkan, “Tuhanku, kalau-kalau dalam hubungan
kami ada satu-dua yang mendekatkan kami pada zina yang Kau larang itu. Tidak,
Tuhanku, bahkan kami saling mencintai bukan untuk membenamkan diri kami dalam lembah
nista itu, Tuhanku. Jauhkan kami dari niat tercela seperti itu, Tuhanku. Kami
mencintai untuk mengabdi pada-Mu. Tuhanku, aku selalu bergairah beribadah
setelah bertemu dan dekat dengannya, seperti malam-malam aku menjadi tekun
menyapa-Mu dalam rakaat-rakaat tahajjud, Tuhanku.”



“Kalau
nanti kalian berpisah bagaimana?”
Aku bangkit dari
sujud. Dan sekarang tahiyyat akhir.
“Tuhanku, aku mohon dengan sangat, bi
wajhika, jangan pisahkan kami. Aku betul-betul mencintainya, Tuhanku, seperti
dia juga sangat mencintaiku.”



“Kalau
nanti kalian berpisah, apa kalian masih akan terus mengabdikan hidup kalian
untuk-Ku, itu maksud-Ku.”
“Sekali lagi, hamba-Mu yang lemah ini
memohon. Jangan buat kami berpisah, Tuhanku.“



”Apa
kalian akan terus tekun beribadah meski tak saling bersama lagi, kau dengar?”
“Aku mendengar, Tuhanku,”
peluh kembali menetes, berat. Seberat aku membayangkan perpisahan dengannya,
“aku akan terus beribadah pada-Mu,
Tuhanku. Kalau dia, aku yakin juga demikian, Tuhanku.”


“Jika
tidak?”
“Aku berjanji akan terus mengabdi
untuk-Mu, Tuhanku.”

“Kau
berjanji?”
“Ya, Tuhanku. Aku berani berjanji
karena aku sangat mencintainya”



“Jaminannya?”
“Jaminan,.. Tuhanku..?”
“Ya,
jaminan janjimu”
“Aku berani terima akibat kalau
ingkar, Tuhanku”
“Apa itu?”
“Tuhanku, seandainya cinta kami
menjauhkan kami dari-Mu atau mengarahkan kami pada larangan-Mu, aku mohon
pisahkan aku darinya, Tuhanku. Untuk apa kami mencintai kalau tidak untuk
mengabdi pada-Mu, Tuhanku”



“Kau sadar
berjanji demikian?”
“Di rakaat tahajjud ini aku berjanji,
Tuhanku. Aku sadar”
Aku melepas tahajjud
dengan salam dua kali.



****

Aku tergeragap
lalu terbangun.

Bayangan
wajahnya datang lagi. Ia, yang selalu kupanggil dengan sebutan bidadari,
seperti menyeru-menyeru memanggil
namaku.
Ah,… di
sepertiga malam terakhir yang dingin ini, apa gerangan yang ingin
disampaikannya?apakah ia

Ingin menyatakan
rasa cintanya yang sungguh di waktu yang tak biasa barangkali, saat orang-orang
tertidur pulas dalam dengkur. Saat dingin merayap, lalu diam-diam merasuk ke
dalam sumsum, tulang-tulang bergemeletuk kemudian. Saat hening turun dan tak
sesuatupun memecah sunyi.



Tapi, tidak. bidadari
tidak ingin mengungkapkan sesuatu.
Setelah aku bangun dalam geragap berkat panggilannya,
ia segera saja pergi. Entah kenapa? Tinggal aku kemudian yang termangu sendiri
dalam tanya. Ah, kenapa pula aku harus bertanya-tanya. Apakah selalu dibutuhkan
alasan untuk sebuah kedatangan dan kepergian?

Tapi, barangkali
itu isyarat. Ya, aku mulai meyakini itu isyarat. Isyarat agar aku menunaikan tahajjud,
shalat yang dianjurkan pelaksanaannya di sepertiga malam seperti ini. Saya
yakin itu, setelah berhari-hari, atau bahkan sudah masuk hitungan minggu,

panggilannya selalu datang.

Aku
jadi suka panggilan itu, panggilan bidadari agar aku selalu mendekatkan
diri pada Tuhan.
Maka, kemudian tahajjud kurutinkan. Kubuat ia sebagai
tempat berkeluh kesah pada Tuhan.
Ah, andai saja sedari dulu aku menangkap maqkhluq
Tuhan itu.


Lalu,
kegiatan-kegiatan keagamaan sering kuikiuti. Kajian-kajian tak pernah absen
kuhadiri. Aku juga sering menghadiri majelis-majelis pengajian dan
dzikir. ibadah adalah tujuan utama hidup yang mesti kujalani.

Aku
merasakan ketenangan yang luar biasa dalam jamaah-jamaah seperti itu. Pengetahuan
agamaku semakin bertambah luas.
Tapi,
bersamaan dengan itu, ada beberapa hal yang
membuatku merasa jauh dari bidadari.
Ini yang sangat sulit.

Jam weker di
atas meja di sudut kamarku hampir menunjuk angka tiga. Aku harus segera ke
belakang, berwudhu, untuk kemudian membenamkan diri dalam rakaat tahajjud.



****

Bulan
itu memasuki tahun ke tiga usia hubunganku dengannya. Aku bahagia sekali karena
pada saat tepat satu tahun sejak kami memulai hubungan ini, ia menyatakan
kembali rasa cintanya padaku. Seperti awal-awal dahulu, semuanya serba indah.

Dalam rakaat tahajjud, kusyukuri semua itu. Sembari mengingat-ingat
kembali perjanjianku dengan Tuhan yang selalu kupegang teguh.

Namun,
setelah itu segalanya seperti berubah.

Mula-mula kulihat ia semakin tekun
mengikuti kajian-kajian di ma’had. Hampir tak pernah absen ia hadir di
majelis-majelisnya.
Apalagi bidadariku terlalu sibuk khidmah di ndalem
ma’had..
Hubungannya dengan para lelaki juga semakin dekat saja. Sehingga
menambah kesepianku berubah menjadi cemburu yg sukar aku taklukkan.
Tapi,.
Aku yakin Bidadariku setia..

Semenjak
ia tahfidz qur’an, aku merasakan sedikit demi sedikit ia mulai menjauh
dariku.

Mula-mula
aku diam dan beranggapan bahwa aktifitasnya sedang tidak bisa diganggu oleh
siapapun. Termasuk olehku, meskipun akulah orang yang dia katakan paling dekat
dengannya.
Aku berpikir, mungkin itu hanya untuk beberapa
saat saja. Setelah itu, ia akan kembali seperti sedia kala.

Namun
ternyata tidak. Ia tetap saja menjauh dariku. Bertambah jauh….dan jauh.

Kucoba
untuk menghubunginya dengan datang sendiri ke ma’had. Tapi, kata
teman-temannya ia malu. Selalu seperti itu jawaban yang kuterima saat
kesana.

Kucoba
pula menghubungi melalui telpon. Jawaban yang sama diberikan olehnya.



Setelah semuanya
tak berhasil, aku memilih diam sambil membuat koreksi, untuk beberapa lama.
Jangan-jangan ada hal yang kuperbuat telah menyinggung perasaannya. Tp
sepertinya tidak ada.
Atau ada
perjanjian dengan Tuhan yang telah kulanggar?. Rasanya juga tidak.



Pada
saat seperti itulah, ia menghubungiku. Ia telpon ke Hp-ku. Ketika kutanya
tentang sikap menjauhnya selama ini, jawabannya
sungguh membuatku tersentak.

Sebuah jawaban yang meski pernah terpikir olehku,
tapi tak pernah kubayangkan bahwa itulah jawaban sebenarnya.

Kuadukan jawaban
itu pada Tuhan di suatu rakaat tahajjud.

“Mengapa Kau jauhkan bidadariku dariku,
Tuhanku?”
“Ia ingin
mendekatkan diri pada-Ku”
“Tapi, tidak harus menjauhkan dariku,
kan?”
“Ia ingin
total mengabdi pada-Ku, bukan untuk dan karena yang lain. Kau paham?”

“Hamba-Mu ini sangat mencintainya,
Tuhanku.”
“Aku tahu”
“Hamba-Mu tidak ingin dipisahkan
darinya, Tuhanku”
“Aku
mengerti”



“Di rakaat tahajjud hamba-Mu pernah
membuat perjanjian…”
“Aku
selalu ingat janjimu”
“Tapi, kenapa Kau menjauhkan kami, padahal
tak ada dari kami yang melanggar perjanjian itu, Tuhanku”
“Sudah
Kukatakan, ia ingin lebih dekat dengan-Ku”

“Kalau begitu aku tak mau menyapa-Mu
lagi dalam tahajjud, Tuhanku”
“Kau ingin
melanggar perjanjian itu? Ku-pisahkan kau darinya semakin jauh…”

“Jangan, Tuhanku. Jangan!”
Aku tak dapat
membayangkan kalau aku dipisahkan semakin jauh darinya. Tak terasa butir-butir
kecil air mata meleleh dari kelopak mataku, tumpah di atas hamparan sajadah.
Dalam tahajjud kali itu, aku menangis.

Mengapa semuanya
menjadi seperti ini?

Menjelang salam kusadari itu semua sudah kehendak Tuhan.

“Tuhanku, biarkan hamba-Mu belajar
lebih banyak tentang semua ketentuan-Mu, termasuk tentang ini,” kataku akhirnya, dalam isak. Lantas aku
bersalam.



****

Ini
sulit. Sangat sulit. Bukan hanya pada diriku yang harus kuakui sangat mencintai
bidadariku, tapi juga soal bagaimana aku mengatakan semuanya.

Aku kemudian
ingin diam, sambil berusaha menghindar dari bidadariku. Aku tak ingin
kehadirannya membuatku tak penuh menapak jalan ibadahku.

Ya, jalan itu sudah kuputuskan sebagai
pilihanku, dengan segala konsekuensinya tentu.
Termasuk jauhnya aku dari bidadari
yang sangat kucintai.

Berkali-kali
bidadari meneleponku. Kutitipkan jawaban pada teman-teman bahwa aku tak
ada. Sedang pergi atau sedang apa.

Pernah
juga bidadari datang. Jawaban serupa kupesankan. bidadari juga mengirim pesan
sms. Meski ada perasaan kuat yang mendorongku untuk me-reply, tapi
ada juga dorongan kuat untuk mendiamkannya, bahkan lebih kuat. Sekuat aku
menapak jalan yang kupilih, meski aku harus tertatih menjauh dari bidadariku.




Tapi, kemudian perasaan dosa datang mendera.
Bukankah itu semua dusta yang di larang Tuhan? Aku juga telah membiarkan bidadari
berlarut-larut dalam ketidakpastian sikapku. Ya, aku harus bersikap. Meski sangat
sulit.

Bukankah aku seorang muslim, Seorang lelaki muslim harus tegas. Ia mesti
bisa bersikap. walaupun sulit.
Lewat
telepon kukatakan semuanya. Tentang jalan yang kupilih. Tentang sikap yang
kuambil. Bidadari terkejut sekali sepertinya. Tapi, aku tahu, bidadari
dapat mengerti. Aku paham sifatnya.

Tekadku saat itu sudah bulat memang. Aku
ingin menjadi seorang muslim yang selalu hidup lurus.

Malam-malam
kemudian.. aku menjadi tenang dalam tahajjud. Sangat tenang. Tidak
seperti sebelumnya, selalu diburu gelisah. Aku bisa terbenam secara utuh dan
khusyuk dalam tahajjud.

Sekali
waktu, aku sering teringat pada bidadari.

Aku memang tidak mungkin bisa
melupakannya. Bahkan tidak juga bisa memupus rasa itu. Tak apa. Rasa itu tak
harus di pupus memang.
Tapi, aku bisa keluar dari menurutkan perasaan belaka. Aku
bisa mengembalikan rasa itu pada asalnya yang suci. Ia milik Tuhan yang harus
kepada-Nya ia diperuntukkan.

Selepas
salam tahajjud. aku selalu berdoa, buat bidadariku,

“Semoga jika rasa cinta ini untuknya,
engkau jaga agar ia diperuntukkan buat-ku. Dan, setelah tiba waktunya aku boleh
memilikinya, aku mengharap ridhomu ya Alloh. Jadikanlah ia jodohku..”

“Tapi, untuk saat ini biarkan kami
meniti jalan mendekat kepada-Mu. Bimbing kami ya Alloh.. ya tuhanku..”

Entah darimana
asalnya, setiap selesai berdoa seperti itu, setelah tahajjud, aku seperti
mendengar suara. Suara itu pelan, tapi jelas dan dalam. Suara orang mengamini
doa-doaku. Suara yang rasanya sangat kukenal.




****

Aku
semakin menyadari bahwa semuanya sudah ketentuan Alloh swt. Dan, ketentuan Alloh
adalah yang terbaik buatku, buatnya, buat kami.

Mengapa
manusia sering tidak menerimanya? Ah, tentu keberatan-keberatan itu ada. Dan
itu sudah menjadi sifat manusia. Tak bisa dipungkiri.

Sedangkan,
Tuhan adalah Sang Maha Sempurna.

Kesadaranku
membuat rakaat tahajjudku semakin khusyuk. Hatiku menjadi tenang. Tenang
sekali. Setenang malam di paruh ketiga itu.

Dalam ketenangan
yang menyentuh itu, aku sering mendengar suaru-suara melintas. Itu bukan suara
biasa. Melainkan bait-bait doa yang dipanjatkan dalam khidmat. Entah darimana
asalnya, tapi aku merasa sangat yakin mengenal suara doa itu.

Sehingga, dengan
kekhusyukan penuh, aku mengamininya.

“amin….amin….ya
Rabbal ‘alamin”


Untukmu
Bidadariku..
di kutip dari: sahabat di fb